HIV pada Anak Makin Jadi Masalah

Tantangan penanggulangan HIV/ AIDS semakin berat. Seiring dengan semakin banyaknya perempuan yang terinfeksi HIV, anak pun berisiko tertular. Anak dengan HIV kemudian menanggung beban yang sangat berat.

Hal itu terungkap antara lain dalam acara renungan akhir tahun dengan topik ”Mampukah Kita Menjaga Setiap Anak Indonesia Terhindar dari HIV”, Kamis (30/12).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 30 September 2010, persentase kumulatif kasus AIDS menurut kelompok umur untuk usia kurang dari 1 tahun sebanyak 1 persen, usia 1- 4 tahun sebesar 1,2 persen, dan usia 5-14 tahun sebesar 0,7 persen. Sementara anak usia 15-19 tahun sebesar 2,9 persen. Sebagai tambahan, kumulatif kasus AIDS segala umur totalnya tercatat 22.726 kasus. Adapun menurut estimasi Badan PBB untuk Masalah AIDS (UNAIDS), pada 2005 diperkirakan 3.000 bayi lahir dengan HIV setiap tahunnya di Indonesia.

Implementasi program prevention of mother to child transmission of HIV (PMTCT) yang bertujuan menyelamatkan ibu dan bayi dari infeksi HIV belum banyak diperhatikan. PMTCT yang lengkap setidaknya mencakup pemberian antiretroviral kepada ibu hamil positif HIV, kelahiran dengan operasi, dan pemberian makanan bagi bayi.

Dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, Prof dr Arwin Akib SpA KAI, mengatakan, hingga saat ini di RSUPN Cipto Mangunkusumo terdapat sekitar 400 anak dengan HIV/ AIDS. Jika kasus-kasus itu ditelusuri, kurang lebih 50 persen dari ibu hamil yang mendapatkan pelayanan PMTCT.

”Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi sangat penting dan tak bisa dilakukan setengah- setengah,” ujarnya.

Makin kompleks

Dokter spesialis kesehatan jiwa dari FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Kristina Siste, mengatakan, masalah HIV pada anak sangat kompleks sehingga dibutuhkan layanan kesehatan fisik dan jiwa yang terintegrasi.

Anak-anak itu membutuhkan layanan kesehatan fisik karena anak dengan HIV lebih rentan terhadap infeksi oportunistik akibat lemahnya kekebalan tubuh. Selain itu, dari aspek kejiwaan juga perlu perhatian. Anak- anak tersebut menghadapi stigma negatif masyarakat terhadap mereka. Di sisi lain anak-anak itu kerap hidup tanpa orangtua atau dengan orangtua yang juga terinfeksi HIV.

”Sebagian besar anak dengan HIV hidup sebagai anak yatim, piatu, atau telah kehilangan kedua orangtuanya sehingga diasuh oleh wali,” ujarnya.

Wali ataupun orangtua sangat rawan mengalami depresi. Kristina mengatakan, berdasarkan penelitian Departemen Psikiatri RSUPN Cipto Mangunkusumo, sekitar 40 persen wali atau orangtua anak HIV positif di rumah sakit itu mengalami gangguan kejiwaan, dalam hal ini depresi karena harus menanggung persoalan hidup di tengah masyarakat yang kurang mendukung.

Secara terpisah, Humas Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat, Tri Irwanda, di Bandung, Minggu (2/1), mengatakan, berdasarkan data KPA Jabar, tahun 1989 hingga Juni 2010, tercatat 108 kasus penularan HIV/AIDS pada anak balita. Adapun pada anak usia 5-14 tahun tercatat 47 kasus penularan pada periode yang sama.

Data lain memperlihatkan, risiko penularan terbanyak terjadi saat persalinan sebesar 18 persen, di dalam kandungan 6 persen, dan pascapersalinan sebesar 4 persen.
source: kompas

0 Comments:

Post a Comment